AKIBAT PELIT SAMA ISTRI

0
6778

H.Derajat

Ini sebuah kisah pendek yang sebaiknya menjadi renungan bagi seorang suami di dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Kisah yang sering terjadi namun banyak yang tidak mengetahui hikmahnya. Ya Allah jauhkanlah kami dari sifat bakhil.

Bismillahirrohmanirrohim

“Bang, beras abis,” keluhku pagi itu. Bang Syafiq hanya berdehem pelan.

“Berapa harga beras?”

“Satu karung tiga ratus enam puluh ribu Bang.”

Bang Syafiq merogoh kantong belakang mengeluarkan uang lima puluh ribu enam lembar diantara uang berwarna merah.

“Kurangnya tambahin pakai uang simpananmu. Masih banyak, kan?”

Aku hanya tersenyum getir. Bulir-bulir kristal memaksa menyeruak. Kuambil uang dari bang Syafiq lalu berbalik sambil menghapus airmata yang mulai menganak sungai.

Hanya karena ketahuan sekali aku punya simpanan uang, bang Syafiq bertindak keterlaluan. Uang dapur diberikan seperlunya saja, pas dengan harga belanjaan.

Terkadang ingin kutolak uang yang ia berikan. Tapi kebutuhan mendesak membuat aku terpaksa membuang ego jauh.

Tak jarang aku menangis. Bang Syafiq bukan kekurangan uang, di dompetnya selalu tebal uang berwarna merah dan biru bahkan banyak mata uang asing. Tapi tak menjadikanku istrinya, memiliki hal yang sama.

Jika kalian melihat isi dompetku kalian pasti akan tertawa. Istri seorang kontraktor yang kerap memenangkan tender senilai miliaran rupiah di dompetnya hanya ada uang seratus ribu, tak lebih dari itu.

Masih ingat kata-katanya saat kuprotes mengenai uang belanja. Dengan santai ia menjawab, “harus ditekan pengeluaran, nanti kamu simpan-simpan lagi uangnya. Ngerti !”

Bang … Bang … apa istrimu yang dua puluh empat jam berkutat di rumah tak pantas memiliki uang simpanan untuk pegangan?

“Kan udah kubelikan semua yang kamu perlu, tas mahal, sepatu, baju bahkan daily skincare pun lengkap. Masih kurang?” tanyanya suatu waktu.

Aku memilih diam, percuma berdebat. Aku hanya rakyat sedangkan ia rajanya. Seribu kalipun aku berteriak keadilan tak akan didengar oleh sang raja.

*
“Bang, aku minta uang buat kirim emak.”

“Nih, lima ratus aja ya kirimnya.”

Ia memberikan gawai. Setelah selesai transaksi transfer online iseng kucek nominal saldo di ATM-nya. Di sana masih ada ratusan juta saldo tapi hanya lima ratus ribu yang sanggup ia berikan ke orang tuaku.

Sambil berlalu keletakkan gawai dan menangis. Lain hal jika saudaranya yang datang meminjam uang. Ia tak segan memberikan lebih. Duh Bang … bukankah orang tuaku orang tuamu jua?

*
Dalam hati kadang ingin kudoakan bang Syafiq diberi pelajaran agar tidak pelit terhadap istrinya, tapi tak sampai hati kulafalkan niat itu.

Beberapa hari yang lalu aku minta uang untuk membeli kado karena ada anak tetangga yang berulang tahun. Lagi-lagi hanya seratus ribu yang kuterima.

“Abang lagi ada proyek sama kawan nih. Kalo cair bisa dapat untung satu miliar Dek, nanti apapun yang Adek mau abang belikan,” tukasnya.

Aku hanya berdehem pelan. Penyakit lain bang Syafiq cepat percaya orang lain ketimbang istri sendiri

*
Sore ini bang Syafiq pulang dengan muka tertunduk. Lesu.

“Kenapa Bang, kok kusut mukanya?”

“Abang ditipu Dek, raib uang kita tiga ratus juta.”

“Uang kita? Uang Abang kali.” Kali ini aku berani menjawab.

“Apa ya Dek salahku? Padahal aku sedekah, ada saudara yang susah kubantu, ada teman yang butuh pinjaman kukasih …,” ucapannya menggantung.

“Mau tahu Abang apa salahnya? Abang terlalu pelit sama istri. Penerima sedekah yang paling berhak itu istrimu Bang, baru saudara-saudaramu. Sama aku aja Abang pelit, uang belanja Abang jatahin pas-pasan. Setiap pergi-pergi uang di dompet cuma seratus ribu. Abang ingat-ingat gih perlakuan Abang ke aku termasuk dzolim gak? Maaf ya Bang bukan mau jadi istri durhaka, tapi perlu Abang tahu kebahagiaan istri jalan lancarnya rezeki suami.” Akhirnya unek-unek yang kusimpan selama ini keluar.

Kutinggalkan bang Syafiq yang masih merenung di luar. Semoga jadi pelajaran untuknya. Bahwa penerima sedekah terbaik adalah istri, anak dan keluarga, dan pahala sedekah terbesar adalah istri.

“Satu dinar yang engkau belanjakan untuk perang di jalan Allah SWT dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk istrimu, yang paling besar pahalanya ialah apa yang engkau berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari Muslim).

End.

H.Derajat,
Pasulukan Loka Gandasasmita.

(Wishnoe Ida Noor)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here