(Artikel Eksklusif JuggalaNews) Catatan KECIL, Sang Jenderal “BESAR”

0
62

Oleh : H Derajat

H. Derajat Bersama Besar Harto Karyawan (Mayjen TNI). (Foto: Istimewa – news.juggala.co.id).

Saudara-saudaraku yang terkasih, terlebih dahulu saya mohon dimaafkan bukanlah artikel ini bertujuan untuk menyanjung-nyanjung seseorang karena sanjungan merupakan ujian bagi yang disanjung. Namun, artikel ini adalah nasehat bagi kita semua untuk direnungkan dari sebuah peristiwa wajar yang terjadi di sekitar kita.

Jenderal “Besar” yang saya maksud bukanlah Jenderal Besar Sudirman ataupun Jenderal Besar Soeharto namun seorang yang saat ini berpangkat Mayor Jenderal yang kebetulan bernama Besar Harto Karyawan yang tentunya dengan harapan beliau akan menjadi jenderal yang besar hatinya, besar kemampuannya dan besar cita-citanya untuk berjuang bersama bangsa ini dalam memajukan Tanah Air.

Seluruh penerima share artikel ini adalah orang beriman, orang Islam yang insya Allah tertancap dalam hatinya untuk mem-besar-kan nama Allah, membesarkan rasa kasih sayang sesama umat dan bahkan kasih sayang kepada seluruh makhlukNya.

Pada suatu ketika sahabatku Mayjen TNI Besar Harto bercerita tentang kewajiban menyayangi semua makhluk Allah. Beliau berkata bahwa pohon-pohon sekalipun menanti belas kasih kita kepadanya. Ketika pulang dari bepergian beliau selalu menjenguk pohon-pohon kesayangannya dengan mencebor pohon itu karena beliau berpendapat bahwa pohon pun merindukan kita yang menyayanginya, pohon akan layu dan tidak menampakkan daun dan bunga cerahnya apabila kita melupakan mereka. “Silahkan lihat dan buktikan”, tegasnya.

Mengenai perkataan Jenderal Besar (Mayjen Besar red.) membuatku teringat bahwa ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ketika ditinggal Rasulullah, ia berkata,

يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ

“Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau”. (Fath Al-Bari, 6: 697)

Keyakinan Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, bahwa sebatang pohon merindukan kita sebagai pemiliknya bukan tanpa dasar ketika pohon kurma menjerit karena rindu kepada Rasul maka Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata bahwa ini merupakan tanda kalau benda seperti batang kurma yang tidak bergerak memiliki perasaan seperti hewan, bahkan lebih unggul dari beberapa hewan yang lebih cerdas. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di mana sebagian ulama maknakan secara tekstual,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Isra’: 44)

Mobil aneh Sang Jenderal

Sahabatku Mayjen TNI Besar Harto memiliki mobil Jeep yang mungkin terlihat nyeleneh, karena ditempeli batu-batu akik yang diambil dari seluruh bagian Nusantara hingga ke bagian bawah mobil.

Suatu saat saya bertanya tentang alasan beliau menempel batu-batu itu. Terbersitlah jawaban yang sungguh mengejutkan saya :”Saya selalu ingin melihat keindahan ciptaan Tuhan kemanapun saya pergi. Batu-batu ini sangat indah, dan saya akan mengingat penciptanya ketika melihat itu semua. Pak Derajat, alam ini mengingatkan kita pada penciptanya, karena segalanya tercipta tanpa ada yang sia-sia”.

“Maka dari itu saya akan bersungguh-sungguh berjuang untuk program Citarum Harum karena saya merindukan melihat orang memancing ikan di tepian sungai yang kiri kanannya lebat dengan pepohonan. Itulah sesuatu yang indah”, tambahnya.

Saya hanya ingin menambahkan saja soal bebatuan ini, tahukah kita bahwa bahkan batu-batu itu mengucapkan salam kepada Rasul dan kepada kita yang menyayanginya ?

Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sabda beliau,

“Sungguh aku masih mengetahui batu di Mekah yang dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus. Sungguh sekarang ini aku masih mengetahuinya”.

Tirmidzi meriwayatkan hadits dan menghasankannya dari Ali yang berkata, “Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Lantas kami keluar ke pinggiran Mekah. Maka, tiadalah beliau berjumpa dengan batu maupun pohon kecuali mengucapkan, “As-Salamu ‘alaika (Semoga keselamatan untukmu), wahai Rasulullah”.

Dalam akhir tulisan ini, pada suatu saat saya berkata kepada sahabat baik saya ini tentang karier ke depannya apakah perlu manuver atau tidak ? Maka jawaban beliau tetap sebagai seorang muslim yang taat bahwa takdir manusia sudah ditetapkanNya, kita hanya wajib melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan yakinlah bahwa Tuhan akan menilainya yang kemudian menetapkan takdir sesuai penilaianNya terhadap pelaksanaan tugas itu.

Aku akhiri catatan kecil ini dengan sebuah kisah dalam hadits ini :

Sebuah hadits shahih yang dishahihkan oleh Tirmidzi dan lainnya, juga diriwayatkan dari beberapa jalan, di antaranya yang dikeluarkan oleh Ahmad dengan redaksi, “Ada serigala menerkam seekor kambing, lalu membawanya lari. Si penggembala mengejarnya dan berhasil merebut kembali kambing tersebut. Lantas serigala itu duduk bersandarkan ekornya dan berkata,

“Tidaklah engkau takut kepada Allah! Engkau merebut rezeki yang telah Allah kirimkan padaku”.

Penggembala itu berguman keheranan, ‘Sungguh aneh sekali. Seekor serigala yang tengah duduk berbicara kepadaku seperti manusia.’

Serigala itu berkata lagi,”Maukah aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih menakjubkan lagi!! Di Yatsrib, Muhammad memberitahu manusia berita-berita berbagai peristiwa yang telah berlalu”.

Lantas penggembala itu menggiring dombanya hingga tiba di Madinah. Ia mengumpulkan dombanya di pinggiran kota, kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menginformasikan (peristiwa tersebut) kepada beliau”.

Dalam riwayat Abu Nu’aim dengan sanad shahih, Al-Qasthalani berkata, “Lantas ia memberitahukan (peristiwa tersebut) kepada beliau dan masuk Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya, kemudian bersabda,

“Sesungguhnya ini termasuk tanda-tanda menjelang datangnya kiamat. Sudah hampir terjadi seseorang keluar dan tidak pulang sampai sepasang sandal dan cambuknya memberitahukan kepadanya apa yang dilakukan istrinya sepeninggal dirinya”.

Marilah kita mengambil hikmah dari hadits-hadits yang saya sajikan tersebut di atas, semoga Allah memberikan berkah pada apapun profesi dan tugas mulia yang saudara-saudaraku emban saat ini.

Kepada sahabatku Mayjen TNI Besar Harto Karyawan selamat menunaikan tugas di tempat yang baru sebagai Pangkostrad. Jalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya sebagai amanah Allah teriring doa kami di Pasulukan Loka Gandasasmita dan Paguron silat Badewa semoga Allah melindungi kita semua. Aamiin ya Allah.

Wallahu ‘alam.

H.Derajat,
Pasulukan Loka Ganda Sasmita.

Wishnoe Ida Noor)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here