(Cerpen Eksklusif Juggala) Dilema

0
150

Oleh: Wishnoe Ida Noor

Ilustrasi : Cat Dumb – Google .

Bagimana menyebut orang pada saat kutampar mukanya, dia mencium kakiku? Dan pada saat kucium mukanya, dia menampar pipiku?

“Sudah beres di buatkan Cerpennya”,
“Belum, dikit lagi”
“Pokoknya harus seperti itu, karena kupikir dalam perjalanan hidup ini, kisah seperti itu kerap dialami. Bedanya, pelakunya saja dengan alurnya masing-masing”, tohoknya lagi.

Begini alurnya,

Ketika banyak kekurangan, kau temukan pada dirinya. Aku hanya menjadi pendengar keluh kesahmu dan menyimaknya dengan baik. Argumen positif Dan negatif, kau ungkapkan sendiri tanpa jeda.

Begitu lepas tanpa beban kau mengatakannya padaku. Tanpa kau peduli, apakah aku punya rasa sakit atas semua sikapmu? Kau menganggapnya, bahwa aku hanya pihak kedua yang kau jadikan sandaran hatimu. Karenanya wajar dan pantas, ketika kesempurnaan kau dapatkan darinya, namaku, adaku segalaku, kau hempaskan dihatimu, bahkan mungkin di kuburnya dalam-dalam, seakan hidupmu tak akan membutuhkan hatiku selamanya.

Itulah dirimu, akupun kehilangan jati dirimu yang selama ini kukenal. Santunmu, pengakuanmu, meyingkirkan keraguan dihatiku. Meski semua itu, ternyata kau akan bicara, ketika ada luka. Kau akan berucap, ketika pisau tajam menghunus hatimu karena ulahnya menduakan hatimu. Kau akan menangis, ketika semua beban yang menghimpitmu seakan tidak ada seorangpun yang mau memahamimu, meski selepasnya kau tarik kembali kata-katamu, bahwa diamu lebih baik dari siapapun.

Ada suatu kata bijak, bahwa ketika orang yang paling kita cinta, kita sayang mampu melukai hati kita, sehingga menyisakan sayatan-sayatan halus menguris hati. Adalah kita tak usah membalasnya, ketika dia terjatuh dan berkeluh kesah kembali pada diri kita, karena hal itu adalah suatu proses yang telah menjadikan diri kita bijak usai melewati masa-masa sulit tanpa menyalahkan dirimu sendiri, dia dan orang lain yang ada dalam kehidupanmu.

Adalah ungkapan diplomatis, ketika orang-orang pintar selalu sembunyi di balik kata-kata, “manusia tidak ada yang sempurna”, meski itu di dapatkan dan dikatakan selepas orang yang kita anggap bijak, baik, suci, dan berilmu mumpuni membuat setitik noktah dan dampaknya berkepanjangan pada hati kita juga perjalanan hidup kita.

Manusia, memang paling gampang menyalahkan orang lain dari suatu akar permasalahan yang terjadi, tanpa mampu mengkoreksinya sendiri. Tanpa mampu mengevaluasinya sendiri. Yang ada hanyalah keegoisan semata, ketika diri merasa serba “paling” disakiti, dikhianati, dibodohi, dipercundangi, dikebiri… dan sandaran paling..paling.. lainnya. Hehehe…

Lucunya lagi, hanya untuk melihat dan merasa, apakah orang yang dekat dengan diri kita bahkan telah menjadi bagian dari hidup kita, punya responsive cemburu atau tidak? Maka dilakukannya suatu sikap yang tolol dengan mengexpose semua nilai kemesraan yang dipertontonkan di status  Wahats App, Face Book, BBM, IG atau lainnya.

Masih untung, jika yang kau sakiti itu, hatinya masih bijak dan cerdas, bahwa semua itu kau lakukan untuk membodohi dirimu sendiri atas ketakberdayaanmu menyikapi kesedihan dan kedukaan hatimu. Maka, perbuatanmu tidak dibalas seperti apa yang telah kau perbuat, melainkan diam dan tersenyum menggapai hatimu yang lemah terseret emosi dirimu sendiri.

Karenanya, apakah dengan sikap tersebut semua permasalahanmu akan usai dan dapat solusinya? Atau tambah runyem? Atau tambah menjauh dari orang yang kau kasihi? Atau kau tutupi saja dengan bermain watak, bahwa semua seakan baik-baik saja, walaupun baik-baikmu adalah pertanyaan terbesar dalam hatiku, karena aku merasa, bahwa aku yang memahami hatimu, walau ternyata itu semua nol besar bagimu, ketika peran harian berganti-ganti kau lakukan. Hehehe…

Bagimana menyebut orang pada saat kutampar mukanya, dia mencium kakiku? Dan pada saat kucium mukanya, dia menampar pipiku?

Kini kau menjauh, ketika aku berani mengatakan jengah dengan polahmu yang egois yanpa tepo seliro. Itu adalah hak bagiku, meski kau tak bisa menerimanya dan berusaha menyerangku dengan berbagai tuduhan untuk menyembunyikan kesalahanmu sendiri.

Kebohongan satu dan lainnya, bagimu sudah sangat biasa kau lakukan hanya padaku, karena kau begitu yakin bahwa engkau sangat benar. Bahwa engkau sangat dibutuhkan, dan diamu tak akan mungkin meninggalkanmu. Bagaimana mau meninggalkanmu? Luka di hatimu saja mampu kau tutup dengan cintamu yang selama ini sebenarnya berlebihan padanya, tapi kau rugi mengakuinya. Hehehe…

Akhirnya engkau merubah performance, akupun masih diam. Kelincahan berkomunikasi bagaimana merajuk dan merayu, sudah sangat piawai kau mainkan. Akupun tetap diam.

“Sudah usai tulisannya, mbak,” Tanya Raenata datar. Yang ditanya hanya membalas dengan senyuman sambil menunjukkan layar laptop yang masih menyala.

“Siapa tu, tokohnya,” tanyanya lagi.

Harnum lagi-lagi hanya tersenyum dan melambaikan tangannya agar yang bertanya turut duduk disampingnya. “ Woaachhh…kang Mas Yana tokohnya tah,?”.

Obrolan pembenahan kata dan kalimat dibincangkan dalam suasana ringan, keduanya tersenyum ketika ending cerita mengatakan, bahwa sesuatu yang dilematis, memang sulit diputuskan, kembali pada yang mpunya hati, konsekuan tidak menjalaninya? Atau hanya ingin menang sendiri? Nyaman sendiri? Dan keegoisan lainnya, atau membiarkannya pergi, jika itu adalah jalan yang terbaik.

“Luar biasa yang menjadi tokoh Julia itu ya, mampu meninggalkan pada saat dia tak membutuhkannya dan kembali pada yang dicintanya, meski kata dia dulu, bahwa laki-laki yang kini jadi ayahnya anak-anak adalah laki-laki yang mudah jatuh cintrong?”, Tanya Raenata.

“Aku simpati sama tokoh Prastomo, tetap bertahan meski dikhianati, tak sepertinya,” jawab Nita sang penulis mengemukakan pendapatnya.

Bagi Julia, Yana, dan Nita. Semua tokoh yang diceritakan di dalamnya adalah gambaran, bahwa manusia pada saat jatuh, sudah barang tentu datang dengan segala keluh kesah, dan menitipkan hati pada yang mampu menampung aspirasi curahan hatinnya.

Lain cerita, jika dia tengah bahagia? Apakah dia akan bercerita dengan jujur mengatakan, bahwa dia sebenarnya mencintanya? Jarang terungkap, sebenarnya. Hehehe…
(Noe’71)

 

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here