Cintaku Tertinggal Di Kintamani

0
90

Cerpen Oleh : Lilis Yuliati, S.Pd

Ilustrasi, Net

Ku buka kembali lembaran foto usang yang tertata apik, diantara tumpukan album lawas yang tersusun rapi di sudut kamar ku. Bermunculan dalam benak, aneka cerita indah yang terfilekan di dalam hati terpatri kuat dalam sanubari.

Berhamburan silih berganti, mengisi relung jiwa membawa melayang kemasa silam. Hening bertemankan semilir angin, mengelus lembut geraian rambut ikalku yang ku biarkan menutupi bahuku, terurai seperti uraian kisah masa lalu ku, di Kintamani.

“Kita mulai perjalanan hari ini, setelah pukul sembilan nanti di Kintamani, untuk menghindari kabut turun. Lalu menuju Danau Batur untuk menikmati keindahan Danau dan Gunung Batur”, jelas Pramudia Hastomo, pemandu wisata perjalanan ku di Pulau Dewata waktu itu. “Lalu kita akan menyebrang ke Trunyan dengan mengendarai perahu di dermaga Kedisan yang sudah tersedia”, sambungnya lagi sambil sesekali melempar senyum kepada kami.

Senyumnya yang manis menambah betah perjalananku saat itu. Dan kalau mesti jujur, aku lebih tertarik, melihat senyum manis dia dengan kedua lesung pipitnya, di banding dengan perjalanan ku yang kedua saat ini, menuju Kintamani dan Danau Batur. Masuk akal, karena aku sedang gandrung dan jatuh cinta, bahkan tergila–gila pada Pramudia Hastomo, sahabat kecil ku yang lama tak jumpa. Yang kini menjadi pemandu wisata, jika kuliahnya sedang libur.

Kami di pertemukan kembali setelah lama berpisah di Kariango Sulawesi dulu, karena pindah tugas orang tua kami yang sama-sama menjadi anggota TNI, yang harus siap bertugas di mana saja untuk mengabdi kepada negara. Aku harus mengikuti ayah pindah ke Bandung dan orang tua Pram harus pindah ke Bali, dan menetap di Kintamani.

Pertemuan yang tidak sengaja, ketika sedang mencari buku di Palasari mendekatkan aku dan Pras untuk sama-sama menimba ilmu dan menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang ada di Bandung. Bersyukur aku bisa di pertemukan lagi dengan dia. Kepintaran dan kecerdasan dia, banyak memberikan manfaat untuk aku. Dia tidak sungkan untuk membagikan ilmunya dengan ku, juga dengan teman yang lainnya.

Sungguh beruntungnya aku, setelah sama-sama menjalin pertemanan dan silaturahmi hampir dua tahun, akhirnya keluarga Pram datang dari Bali, dengan maksud menghitbah aku. Sungguh di luar dugaan, ternyata silaturahmi orang tua kami tetap terjalin walau jarak yang memisahkan mereka.

Mereka berencana untuk menjodohkan kami. Aku dan Pram sangat kaget dengan rencana mereka. Namun jujur, aku sangat bahagia dengan semua rencana ini. Setelah lulus nanti, aku akan menjadi bagian dari keluarga Pram. Setelah Wisuda, pernikahan itu akan di gelar di Bandung. Usai acara lamaran, dengan berpayung hitam ku antar keluarga Pram menuju mobilnya, untuk pulang tanpa menghiraukan cipratan air hujan yang membasahi badan ku.

Ilustrasi, Net

“Payungnya Mbak!,” sesosok anak kecil berlari dengan telanjang kaki menawarkan payung yang di genggamnya erat. “Hanya Rp. 20.000,- saja”, ucapnya sambil menyeka ari hujan di wajahnya yang lugu. “Ayo Mbak, sampai mulut gu’a,” jelasnya lagi.

Aku tersenyum miris menyaksikan kejadian itu, iba dengan keadaan mereka. Anak-anak yang lugu, dengan segala kepolosannya, harus bekerja membantu orang tuanya menjadi ojek payung. “Ayo Jean, kita jalan,” bisik Pram sambil menggandeng tangan ku, menuju gua di kawasan Trunyan. Objek wisata yang terkenal dengan keunikannya, yaitu pemakaman mayat yang hanya di letakkan di atas tanah, lalu di letakkan di bawah pohon Taru Menyan. Jasad mereka hanya di pagari dengan anyaman bambu supaya tidak di ganggu binatang. Dan anehnya jasad yang mulai membusukpun tidak mengeluarkan bau busuk. Selepas dari Trunyan perjalanan kami lanjutkan menuju sawah berundak, lalu ke Ubud dan kembali ke Kintamani, untuk kembali ke hotel.

Malam mulai merayap sepi, selepas santap malam di hotel, kami di beri kebebasan menikmati Kintamani di waktu malam bersama kabutnya yang kian menebal. Angin yang bertiup kencang, memaksa aku untuk semakin merapatkan jaket tebalku di tubuhku, sambil ku silangkan kedua tangan di dadaku.

“Do’akan Abang ya Jean, Oktober mendatang Abang jadi berangkat untuk pertukaran pelajar ke Jepang,” ucap Pram, sambil kembali meneguk teh panasnya. Senyumnya mengembang dengan segala karismatiknya. “Jangan lupa jemput Abang, jika Abang kembali ke Kintamani nanti, dengan payung ini!,” bisiknya sambil menatap payung hitam yang senantiasa ku bawa jika aku pergi. Tersenyum aku mendengar candaan kekasih hatiku itu. Dia selalu menggodaku, karena aku terbiasa pergi dengan selalu membawa payung ini, dengan alasan takut panas atau kehujaanan.

“Ayo Jean, jalan!,” bisik ibu lembut di telinga ku, sambil mengelus pipiku yang basah dengan air mata. Aku hanya mematung dengan payung hitam yang mengembang di atas kepala ku, tak mampu berkata sepatuhpun dan berjalan selangkah pun. Ku jemput Pram dengan payung hitam ini, di Bandara Ngurahray untuk menuju Kintamani di peristirhatannya yang terakhir.

Perjalanan Pram untuk pertukaran pelajar menuju Jepang, menghantarkannya ke keabadian. Pesawat yang ia tumpangi hilang kontak dan mengalami kecelakaan. Seluruh awak dan penumpang tidak ada yang terselamatkan.

Hitam… pekat yang ku rasa saat itu, sepekat payung hitam yang senantiasa ku bawa. Ketika ku harus kembali ke Kintamani memenuhi keinginan Pram, mengantarkan Cinta ku yang harus ku tinggal disana, Pramudia Hastomo selamat jalan semoga damai di sisi NYA.

Banyuresmi, 01 September 2018.
(Noe’71)

***
CV Penulis:

  • Lilis Yuliati, S.Pd
  • Guru SDN Banyuresmi 3
  • Mahasiswa Tekpen Pasca Sarjana IPI Garut

Cerpen Terkait : http://news.juggala.co.id/janji-hati-ayudia/

 

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here