Ciptakan Kerukunan Masyarakat Melalui ‘Diajar Diadu Tuur’

0
34

Rudi Herdiana – JuggalaNews

DKM Mesjid Jami At-Turmudiyah, Ustad Surya Taufi Hidayah Bersama Ayahanda, Aceng Musa Bin A. Maedji selaku Ketua MUI Kel. Sukanegla Sekaligus Ketua Komisi Hukum dan Fatwa MUI Kec. Garut Kota. (Foto: Rudi Herdiana – news.juggala.co.id)

Garut – Guna memakmuran mesjid, tentunya setiap Mesjid secara rutin menyelenggarakan pengajian, baik seminggu atau sebulan sekali. Namun ada yang berbeda pelaksanaan pengajian di Mesjid Jami At-Turmudiyah Kp. Pasantren Kel. Suanegla.

Menurut DKM Mesjid Jami At-Turmudiyah, Ustad Surya Taufi Hidayah, (04/05) bahwa kita mencoba membangun kerukunan dan kedekatan semua pihak, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan masyarakat melalui pengajian rutin.

Mungkin lanjutnya, jika didaerah lain setelah pengajian, jemaah langsur pulang kerumah masing-masing. Berbeda dengan di sini, setelah selesai pengajian diadakan pengkajian atau istilahnya kami “diajar diadu tuur” (belajar berdekatan lutut).

Filosofinya, jelas Ustad Surya, jika kita biasa berdekatan/bersentuhan fisik (lutut), perbincangan akan lebih dekat dan akan saling menghargai. Pasalnya, dengan dekatnya jasad kita satu sama lainnya, otomatis batinnya-pun menjadi dekat, maka ketika mengaji dengkul tidak boleh jauh, supaya nampak harmonis.

Kegiatan Pengajian dan Pengkajian di Mesjid Jami At-Turmudiyah. (Foto: Rudi Herdiana – news.juggala.co.id)

Selain itu, selesai pengkajian dilaksanakan makan bersama, akan tetapi cara makannya-pun pakai nampan atau daun pisang, sehingga tidak ada perbedaan makanan, semuanya sama. Artinya, jangan sampai ada jarak antara tokoh agama, tokoh masyarkata, tokoh pemuda dan juga masyarakat.

“Semoga dengan metode ini, berbuah kerukunan karena dasarnya apapun yang kita pelajari, kalau tidak kita kaji tidak akan sampai pada lingkungan. Artinya, rohani harus bersih, jiwa harus bersih dan lingkungan-pun harus bersih,” ucap dia.

Pengkajian berupa mengkaji kitab kuning dilanjut dengan mengkaji Agama dan lingkungan, jadi jangan sampai kita mengaji tetapi tidak mengkaji. Bahkan, mulai dari merencanakan RT, RW dan Pemerintahan pun dibahas di tempat pengajian, maka akan tercipta kekompakan. “Intinya, semua muatan pengkajian untuk kebaikan lingkungan, tidak ada kepentingan lainnya,” tandas nya.

“Alhamdulillah, awalnya MCK mesjid kumuh dan kotor, tapi dengan adanya pengajian dan pengkajian sekarang menjadi bersih. Hal ini berawal dari mengkaji Bab Nazis sampai kita aplikasikan bagaimana membangun lingkungan yang jauh dari nazis dan sudah teraplikasikan dibeberapa titik,” jelasnya.

Makan Bersama Usai Pengajian Rutin. (Foto: Rudi Herdiana – news.juggala.co.id)

Karena yang saya harapkan, aku Ustad Surya, bagaimana manusia itu bisa berbuat dan berguna untuk orang banyak. Apapun jabatannya, setinggi apapun ilmunya kalau tidak berguna untuk orang lain, tidak berarti apa-apa. Artinya kita belajar untuk diri sendiri dan belajat berbuat banyak untuk orang lain.

Pengajian tersebut telah berjalan selama 3 tahun, dimana pelaksanaan setiap Jum’at malam yang dimulai pukul 21.00 sampai 24 WIB dan tidak pernah libur (berhenti) meskipun di bulan Ramadhan. Sementara Jemaah militan sebanyak 30 orang, berasal dari warga sekitar dan kampung tetangga, bahkan ada yang dari luar kota. “Alhamdulillah, setiap tahun jemaah bertambah minimal 5 militan,” akunya.

“Tujuan dilaksanakan malam hari, selain menerpa mental, juga karena untuk membuka hati membutuhkan suasana. Jadi, supaya alam pikir kita tenang, kondisi jiwa tenang, itu membutuh suasana yang tenang juga,” pungkasnya.
(oga)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here