Dermaga Yang Hilang

0
29

Cerpen Akhir Pekan JuggalaNews

https/pixabay.com/id/photos/pemandangan-laut-pelabuhan-weynouth-2444028 – news.juggala.co.id

Oleh: Lilis Yuliati, S.Pd, M.Pd

Kita hanya punya rencana, terwujud atau tidaknya hal tersebut, hanya Tuhan yang mengetahuinya. Namun, bukan berarti kita takut untuk merencanakan sesuatu dalam perjalanan hidup kita demi mewujudkan harapan dan cita-cita, semua itu proses akan suatu jawaban dimana Tuhan punya kehendak dan maksud baik lainnya dibalik keberhasilan bahkan kegagalan sekalipun.

Seperti halnya cinta, perasaan, bahagia, kecawa…datang dan pergi, sehingga karenanya telah mendidik kita untuk lebih dewasa, meski alurnya adalah menyakitkan dan melukakan. Tak jarang, diri merasa hilang arah.

“Jika rasa ini hanya akan membawaku ke jurang penantian yang sangat panjang dan dalam, maka lepaskanlah asa ini dari mu. Dan  jika rindu ini hanya akan membawaku kedalam penjara rasa yang kian menguris kalbu, maka hapuskanlah segala ada ku di hati mu. Lepaskan dan tepis semua asa tentang kita!,” guman Lidia dalam tatap mata hampa melepas kepergian Joel yang berlalu meninggalkannya.

Beralasan jika Lidia memohon semua itu pada Joel, kisah cinta yang terjalin cukup lama diantara mereka, terasa tetap ngambang tidak ada titik pasti yang akan dituju. Selalu saja ada kata,” Maafkan sayang, Mas belum bisa menghadap Romo untuk membicarakan tentang hubungan kita”.

Sampai  saat ini, hanya kata takut yang kerap Joel katakan jika di tanya masalah hubungannya oleh Lidia. Rasa takut, enggan dan tidak berani untuk menghadap Romonya yang terasa cukup otoriter terhadap segala keputusannya. Keputusan yang mesti dituruti oleh semua anggota keluarganya.

Kecewa hati Lidia dengan penantian yang kerap Joel berikan untuknya. Janji akan segera  meminang selalu dia ungkapkan. Namun, semua yang Joel katakan hanya sebuah pepesan kosong untuk Lidia. Tidak ada keseriusan dalam bertindak untuk memperjuangkan cintanya.

Sampai  pada suatu titik jenuh yang tidak bisa di pertahankan, Lidia berontak dengan segala asa yang dirasa kian hampa, kian jauh dari keseriusan yang Joel berikan untuk Lidia. “Tak mungkin aku tetap berpijak dalam bayangan yang kian jauh dari gapaian”, batin Lidia sambil nenatap lekat-lekat foto lelaki yang telah lama mengisi hatinya.

Tekadnya bulat, keputusan Lidia untuk melepas ikatan yang selama ini sudah terjalin dan diuntai bersama dalam kasih yang terbina. “Jika kuambil keputusan ini, bukan kau yang salah dalam bertindak, Mas. Tapi aku menyadari kalau selama ini aku hanya mengharap dengan tangan tak sampai untuk memeluk gunung, tanpa sayap untuk meraih bintang, dan tak mampu menyandingkan antara langit dan bumi. “Aku sudah mengetahuinya Mas”. Ungkap Lidia dalam ketegaran yang ia ciptakan di kelukaan hatinya.

Tergagap Joel dalam tanya”, apa maksudmu sayang? Sambil menatap Lidia yang tertunduk diantar air mata yang mengalir deras dipipinya. “Apa maksud yang kau ketahui?” tanyanya lagi, penuh penasaran. “Aku tak mungkin menjadi pendamping hidupmu, aku menyadari itu Mas”, jelas Lidia terisak dalam tangis.

Sampai Joel beranjak pulang, Lidia tetap teguh dengan pendiriannya. Berpisah dengan Joel dengan luka yang telah di torehkan oleh Romonya Joel. Yang telah datang kepada orang tua Lidia, untuk melarang Lidia menjalin hubungan dengan Joel. Dengan alasan Joel akan mengikuti ikatan dinas di kemiliteran dan telah di jodohkan dengan kerabat dari Bundanya.

Terasa tumpah alam jagat, melumpuhkan segala asa yang telah tercipta. Terjawab sudah alasan Joel yang senantiasa mengulur waktu, menarik alasan dengan rasa takut yang selalu di ucapkan. Takut  dan enggan untuk menghadap romonya. Lidia kembali mengusap air matanya, menatap kedua orangtuanya, simbok dan pak’e yang tak berdaya melawan keputusan Romonya Joel yang menjadi pejabat di kampungnya.

Karam sudah semua harapan Lidia, seperti karamnya jangkar sebelum sampai di dermaga yang hendak ia lalui. Sebelum layar terbentang menuju dermaga yang kini porak poranda di telan keegoan tsunami kekuasaan dan jabatan. Kini tak ada lagi dermaga rasa yang menjadi sandaran dalam hidup Lidia. Lelaki  tempat berbagi suka da duka selama ini, telah pergi seperti dermaga yang hilang, pergi meninggalkannya demi memenuhi keinginan romonya.

Banyuresmi, 3 Maret 19

(Wishnoe Ida Noor)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here