Gerimis Mengundang

0
86

Cerpen Oleh: Wishnoe Ida Noor

Pernahkah hati, dihadapkan pada kebimbangan diantara banyak pilihan dan pertimbangan? Pernahkah hati, menginginkan sesuatu kenyamanan dari seseorang yang betul-betul telah kita anggap, bahwa dia satu-satunya yang mampu memahami, dan mengerti diri kita?, namun semua itu terasa tak ada nilainya, ketika ternyata dia bukan sekedar mampu menyamankan, melainkan memberikan kegundahan, kelukaan dan ketakberdayaan.

Kita sering berkaca pada diri sendiri, apakah masih begitu banyak hal yang harus dibenahi? Ketika segalanya tertumpah ruah ditujukan untuknya, namun dipandangnya tetap masih banyak kekurangan. Bahkan lebih ngeres lagi, dikhianati.

“Maafkan aku Edo, karenanya hatimu terluka tanpa jeda,” bisik Melinda bergumam lirih pada hatinya sendiri. Ditariknya nafas perlahan dan dalam, melepas beban yang menindihi hatinya.

Suatu pertemuan tak disengaja, membawa mereka pada cerita berbingkaikan bunga dan duka. Sam-sama dalam kesendirian hati nan lengang, meski pada kenyataannya tak sendiri.

Melinda berkata jujur, bahwa dirinya sudah tak sendiri lagi. Cincin putih melingkar dijari manisnya, terikat perjanjian dengan kekasih hatinya. “ Do, jika suatu saat kau melihatku dengan selainmu, apa yang akan kau lakukan?,” Tanya Melinda.

Edo memandangnya lekat, memberikan jawaban bahwa suatu konsekuensi telah menjadi hal yang harus dipertanggungjawabkannya dengan gentle, bahwa hati nan di bagi dan terbagi, harus siap luka dan menderita.

Semua itu berjalan sudah begitu lama, tanpa ada tanya dan curiga. Sama-sama saling menghargai, ketika Melinda tengah bersama kekasih hatinya. Tak ada tanya yang menydutkan Mel dari Edo, perjalanan kebersamaan yang mengalir begitu saja.

Pernah suatu ketika Melinda merasakan ketakmengertian hatinya, Edo tak bereaksi apapun, mendapatkan dirinya tengah mesra bergandengan tangan bersama Krisna. Hanya senyum kecil mengembang dari bibir Edo, sekilas memandang, kemudian berlalu ditelan kabut.

Seandainya engkau sehari saja menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan? Hanya itu tanya yang meluncur dari bibir Edo, mengakhiri pertemuannya dan hingga kini antara keduanya tak pernah saling sua.

“Jangan bertanya tentang sesuatu, terlebih tanya banyak hal, sementara engkau sendiri tahu jawabannya, dan aku tidak akan pernah menjawab tanyamu itu,” tukas Edo ketika komunikasi kembali terjalin setelah dengan susah payah Melinda mendapatkan nomor kontaknya.

Tapi, tak menyurutkan niat Melinda untuk terus berkabar berita tentang banyak hal, meski jarang ditanggapi Edo. Termasuk suatu ceita nyata diungkapkannya tanpa jeda, bahwa lelaki yang kini telah menjadi suaminya pernah mengikat janji dengan selainnya, bahkan telah terjadi pernikahan siri.

Telak, ketika Melinda mendapatkan suatu jawaban tak pernah dinyana sebelumnya. Menurut Edo, jika hatimu sendiri mencintanya, kuatkan saja untuk menjalaninya, sebab hidup tak selamanya diwarnai dengan kebahagiaan semata, namun duka akan menjai bagian hidup yang tak mungkin dihindari.

“Kau tahu Mel, ketika bahagia menerpa hatimu, pernahkah engkau mengingatnya untuk berduka? Terlebih mengingatku?, mungkin seperti itulah yang seharusnya terjadi,” tutur Edo dalam goresan tulisannya melalui WA.

Ada catatan kecil yang dikirimkannya ketika pagi menyapa, bahwa sekuat apapun hati, tapi jika tanpa komitmen yang jelas, semua itu tak akan berhaluan. Ibarat sampan, selamanya akan berada di tengah lautan, diterpa angin, badai, dan ombak. Tetap mengambang, meski harus terseret dan terseoki mengikuti derasnya hantaman buana lautan.

Melinda, selamat pagi.
Kamu mungkin tak akan pernah mau tahu, bahwa memeiliki hatimu adalah pengorbanan terbesar bagi hidupku. Karena, ketika aku menyadari sepenuh hati, ketika Tuhan mempertemukan kita, aku meyakininya bahwa perjalananku harus seperti itu, dan aku melakoninya saja.

Tapi, apakah tak terbersit dihatimu, macam apakah hatiku ketika semuanya tertuju padamu, sementara engkau memberiku warna abu-abu. Sesuka hatimu, bahkan!

Engkau akan marah, ketika hatimu terbiarkan oleh sapa setiap hari yang kerap kulakukan padamu. Apakah hal itu pernah kau lakukan untukku?. Aku tak memintanya, karena menurutku, engkau laik untuk kusayangi, kulindungi dan kujaga dengan segenap jiwa.

Sudahlah, jika hatimu dihadapkan pada titik tak berhaluan. Tak usah kau paksakan untuk selalu bersamaku, hanya karena alas an menghormati atau terlebih mengasihaniku. Tentukan saja sikapmu, dan biarkan aku memilih seperti yang kau kehendaki atau saran egomu mencari selainmu, meski itu semua tak akan pernah kulakukan, karena aku bukan dirinya juga dirimu.

Untukmu, aku ucapkan terimakasih. Karena dirimu mampu memberiku gerimis nan tiada henti. Itu semua membebalkan hatiku, untuk memilih profesiku, menanggalkan semua tentang harapan yang pernah kau tawarkan padaku.

Melinda membaca dan menyimaknya berulangkali, seakan tak percaya. Hatinya mengutuk keras, karena keegoannya, seorang Edo yang selalu ada dihatinya, pergi tanpa mau kembali, tapi dia tak berpaling sepertinya terlebih bermanis kata hanya untuk menina bobokan dusta.

Maafku untukmu, Edo.
Berbahagialah perempuan yang mampu mendapatkan hatimu, siapapun itu. Meski hati kecilku berbisik, bahwa hanya aku Melindamu selamanya yang akan terus mengikuti bayangmu, langkahmu, dan hatimu kemanapun kau pergi, gumamnya.
(Noe’71)

 

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here