Inilah Alasan Assc. Prof. Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si., MCE. Mengapa IPI dan UPI Akan Gelar Semwork Gratis Bagi 100 Peserta

0
405

Wawancara Eksklusif

Lilis Yuliati, S.Pd, M.Pd – JuggalaNews

Seluruh Dokumentasi Dalam Pemberitaan Ini Oleh IPI Garut & Dok. Lilis Yuliati, S.Pd,.M.Pd – news.juggala.co.id

Garut – Kali ini, Jum’at (05/7) JuggalaNews tansformasikan wawancara eksklusif dengan Assc.Prof. Dr. Deni Darmawan Kaprodi Tekpen Sekolah Pasca Sarjana IPI Garut, terkait akan diselenggarakannya Seminar Workshop (SemWork) secara gratis bagi masyarakat Kabupaten Garut, khususnya para pendidik.

Dalam kegiatan tersebut, pihak IPI Garut  menggandeng UPI, Dinas Pendidikan, SEGI, PGRI dengan spondor UNESCO, IICP, Microsoft, Pikiran Rakyat dan JuggalaNews.

Sebelum menjelaskan terkait digratiskannya acara Semwork pada para peserta, Dr. Deni memaparkan apa yang menjadi latar belakangnya. Bahwa, Garut merupakan kota strategis yang sebentar lagi akan melintas jalan tol yang membelah jalur selatan.

Untuk itu, kualitas SDM harus disiapkan termasuk para tenaga pendidikan dlm menyambut era pembangunan yang akan lebih pesat dan syarat konpetitif yang tinggi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan, adalah meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas para pendidik menjadi magister magister yg handal. Untuk itu sekarang ini, Garut telah memiliki IPI (institut pendidikan Indonesia). Dengan IPI dan program Magister yang dimilikinya maka para guru di wilayah garut tdk perlu jauh jauh melanjutjan ke S2 cukup ke IPI saja. Saat ini kredibilitas IPI sudah diakui dunia, dimana salah satu riset dosennya telah diakui UNESCO, khususnya dlm bidang peningkatan kualitas scientist para pendidiknya.

Demikian juga IPI telah memiliki program Sertifikasi Internasional melalui program MCE ( Mircrosoft Certified Educator), dimana  lulusan magister IPI akan mendapatkan gelar ganda yaitu M.Pd dan MCE. Program magister IPI juga akan dibekali kemampuan memlublikasikan karya tulis ilmiahnya pada jurnal-jurnal internasional bereputasi.

Dengan demikian saatnya kualifikasi dan kualitas guru-guru dari Garut mampu berkompetisi pada level Internasional. Dan mampu mewujudkan dan mengkongkritkan konsep Era Industri 4.0  yang tidak hanya pada tataran wacana belaka.

Ketika  hal itu di tanyakan, kenapa Semwork di gratiskan untuk para pesertanya, padahal tak tanggung-tanggung akan menghadirkan pakar-pakar yang sangat luar biasa dengan pemateri yang bagus dan mumpuni di bidangnya.

Berikut penjelasan Assc. Prof. Deni Pada JuggalaNews.

Kenapa gratis? Suatu pertanyaan yang sangat bagus, dan saya harus menjawabnya, bahwa   secara pribadi dan dengan dukungan lembaga, bertujuan janganlah terlalu memberatkan para guru, ketika harus menimba ilmu.

Jadi, yang penting kita ini  bisa melangkahkan kaki, bisa memiliki motivasi tinggi, datang untuk mengupdate pengetahuannya, teknologynya, wawasannya, kebersamaannya sharingnya kompetitifnya, itu yang penting, tandasnya.

“Kalau masalah daftar jangan di sini, tingkat dunia saja. Kenapa saya bicara seperti ini? Karena   saya sudah merasakan betul, bagaimana perjuangan di level internasional. Jangan  sampai banyak kendala, karena uang satu rupiah, dua rupiah, bilamana perlu ratusan juta itu tidak ada artinya. Ketika kita gagal, ketika kita tidak berhasil, ketika tidak mewujudkan dan mampu menjadi yang terbaik tidak ada artinya,” ungkapnya.

Tetapi dengan gratis ini, lanjut Assc.Prof. Deni, dirinya  ingin menguji awareness, kepedulian rasa memiliki,  semangat, untuk menjadi wacana selama ini. Apakah benar ada dalam hati nurani ibu bapak  guru?

“Saya tantang, mulai dari bapak dan ibu guru, pimpinan, kepala sekolah,  pengawas, Koorwas, Koorcam, Koorwil, semua saya tantang, bapak mentreri pendidikan, bahkan bapak presiden Jokowi saya tantang. Apakah  awareness muncul, ketika sebuah kegiatan itu  berbasiskan gratis?,” Tanyanya.

Dari persepsi yang diungkapkannya pada JuggalaNews, bahwa pihaknya sejak  awal  menekankan bahwa semua itu merupakan upaya pendekatan yang dilakukannya, agar di dunia pendidikan, semua pihak, baik para pendidik dan lainnya memiliki kesadaran.

“Ini  yang harus ditanamkan, bagaimana mungkin kalau  kita harus mahal? Sekolah, cari ilmu dapat informasi dapat pengetahuan sesuatu yang baru, jika mahal maka anak-anak kita tidak bisa beli, anak-anak kita tidak bisa belajar, terlebih kenapa karena gurunya tidak bisa membeli pengetahuan,” ujarnya.

Dalam hal ini Deni memberikan worning, “Ingat, pengetahuan itu tidak milik siapapun, tapi pengetahuan dan teknology adalah milik siapapun yang mau belajar, dan siapa yang punya motivasi”.

Jaman sekarang terbuka lebar, informasi ada di mana-mana, di  google, di internet, firtual, dunia maya. Tidak ada yang membatasi ruang gerak bapak dan ibu, tidak dan itulah salah satu misi di dalam UNESCO ini.

“Saya mendapatkannya  itu terasa memang di gratiskan. Namun, bagaimana nanti memberikan suport untuk mengimplementasikannya? Justru itu yang beratnya,” jelasnya.

Maka dari itu para kepala Dinas, para pimpinan Pemda, para pimpinan  kompeten daerah, Provinsi, Nasional, itu baru membutuhkan sejumlah anggaran, ketika akan mendesiminasikan,mencetaknya,mengimplementasikannya, baru itu berhubungan dengan semua aspek, diluar dari acara hanya transfer knowledge ini.

“Yang gratis, adalah transfer knowledge. Tapi silahkan saya kembalikan bagaimana ini bisa di bangun, bagaimana bisa di bekali, bagaimana itu bisa dianggarkan. Itu adalah  sudah di rancang dalam perundangan yang berikutnya, melalui RENSTRA, RPJPD, RPJMD, dan RPJP. Tentunya itu merupakan kewenangan para pimpinan di Kalangan kepemerintahan,” paparnya.

Berikut ini kutifan Assc.Prof. Deni, bahwa “kami sebagai ilmuwan, sebagai peneliti ingin rasanya menyampaikan sesuatu yang saya miliki, saya gratiskan. Mangga, silahkan dengan ikhlas yang mau saja. Minimal kami butuh dan mengumpulkan seratus guru, berati seratus penggerak, seratus perintis, perubah pembangunan pendidikan di  Indonesia ini. Mungkin kelak jadi seribu, sejuta, semiliar. Bayangkan kalau itu bisa terbangun, kita bisa terbaik di Asia Tenggara, bisa mengalahkan Malaysia”.

Diantara penjelasannya, Deni menyinggung  terkait dirinya yang mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pendidikan Malaysia. Rasa bangga, karena mereka datang ke kita, mau mendengarkan pembicaraan  seorang Deni Darmawan. Padahal  banyak para pimpinan, para tokoh, para ahli di bidang pendidikan. “Namun, itulah yang saya dapatkan dan itu gratis saya peroleh. Kenapa tidak, saya ingin berbagi kesempatan ini kepada para guru”.

Menurutnya, bahwa ilmu tidak mahal, tetapi ilmu akan mahal ketika kita malas, ketika kita malu, ketika kita sungkan, ketika kita merasa rendah diri, ketika kita droup dan kalah bersaing.

Penegasan tajam di ungkapkannya, jika kita tidak memupunyai motivasi, maka sampai kapanpun pendidikan mau siapapun pemimpinnya, mau siapapun kepala dinasnya, siapapun bupatinya. Deni menjamin tidak akan maju, jika di dalam hati kita, di dalam jiwa kita, tidak ada semangat tidak ada motivasi untuk berubah, yaitu mendapatkan ilmu yang baik, mulia dan bermanfaat.

“Saya katakan jika semua itu bisa dapat dengan gratis. Jadi itu alasannya secara  fundamental diharapkan mampu menyentuh  aspek mentalitas para generasi yang akan datang dan para pendidik, khususnya para guru. Kenapa demikian? Karena saya bisa begini, saya bisa bicara  seperti ini, berkat tempaan dan binaan dari bapak dan ibu guru terdahulu yang saya timba ilmunya, berkat para dosen yang sekarang membina saya.  Berkat para guru-guru besar yang membesarkan saya, berkat para kiayi yang memberikan landasan keagamaan saya, berkat para pimpinan, berkat para guru leluhur kita, berkat para atasan-atasan saya yang sekarang ini memberikan kewenangan keleluasaan memberikan amanah yang cukup mulia  ini.   Saya minta do’anya juga dari pada tokoh pendidikan, tokoh masyarajat dan agama, mudah-mudahan  ini tidak keluar dari niat-niat yang baik dalam kaidah dan akidah aturan pemerintahan, organisasi maupun agama”.

Dan perlu di tekankan disini, bahwa yang gratis tidak selamanya murahan. Mohon  kepada semua pihak, tidak ada sesuatu yang dikatakan jelek jika niatnya baik atau tidak berarti, tidak bermakna tidak memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kehidupan  manusia, jika niatnya baik terutama dalam konteks pendidikan. Namun yang mengatakan klasifikasi  berharga atau bernilai   rupiah, gratis, mahal, murah itu adalah ukuran.

Takaran kita selaku pribadi, organisasi,   perusahaan atau bahkan selaku lembaga – lembaga yang menerapkan istilah harga dan takaran. Padahal yang namanya ilmu tidak bisa ditakar. Contoh apakah ada, ibu bapak yang membeli ilmu Rp. 100.000? atau ingin membaca buku Rp.25.000?, tanyanya.

Marilah pegang sebagai pilosofis kita, bahwa yang namanya gratis itu bukan berarti yang murah, bukan berarti yang mudah, bukan berarti yang ecek-ecek dan disepelekan orang-orang. Yang murah itu, bahkan yang gratis itu mungkin, adalah  berlian-berlian  yang tidak dan belum disentuh, belum pernah kita perhatikan, belum pernah kita rasakan dan kita temukan, ajak Deni.

Karena, lanjutnya mungkin saja yang gratis itu, suatau saat akan menjadi yang termahal yang akan menghasilkan intan yang akan menghasilkan permata-permata yang bersinar kelak, kalau kita gosok, kita tempa, kita didik, kita manfaatkan, dan kita aplikasikan.

“Semua ilmu yang gratis-gratis itu, silahkan kita resapi pada diri kita. Yang murah itu, bukan berarti tidak berharga. Bahwa yang murah, adalah yang telah bahkan tidak pernah kita perhatikan dan telah di lupakan oleh kita, ketika kita berperan aktif akan mengatakan takaran saya, ketika sedang kuliah adalah membayar SPP sekian juta. Tetapi kita tidak menyadari, bahwa yang di berikan oleh kampus juga banyak yang gratisnya dan kita tidak menyadarinya. Pasilitas perpustakaan, pasilitas buku-buku. Apakah  buku-buku itu sudah di baca semua oleh kita?, salam masa depan,”  pungkasnya.

(Wishnoe Ida Noor)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here