Janji Hati Ayudia

0
186

Cerpen Oleh : Lilis Yuliati, S.Pd
Ku coba tuangkan rindu pada alam, pada angin yang berhembus, pada awan yang berarak, pada gunung yang menjulang diantara hamparan edelweis di kawah Papandayan, dari sebongkah gundah gulana rasa, dari asa yang tertinggal, dikedalaman rasa, sepenggal kekecewaan yang tersisa.

Ku tancapkan Merah Putih dan bendera Mapala, setelahnya sampai di bibir kawah. Puji syukur karunia alam, atas indahnya panorama yang DIA ciptakan, alam semesta beserta isinya.

“Alhamdulillah sampai juga aku kesini”, lirih Ayudia dalam senyum kebanggaan, mengembang dari bibirnya nan manis. Tatapan mata nan sendu, menerawang jauh entah kemana diantara kabut kawah yang kian menebal. “Apa yang kamu pikirkan Yu?”, bibir tersenyum, tapi hatimu jauh, tatap matamu kosong hampa,seperti tak bertuan!”, cerocos Meilan yang berdiri di samping Ayudia. “Tidak ada”, jawab Ayudia menepis cepat. “Jangan kau bohongi aku dan hatimu, Ayudia!”, kembali ucap Meilan, sambil menatap sahabatnya itu. “Aku tahu siapa kamu, dan bagaimana kamu, jika sedang gundah atau ada masalah, ceritalah!”, bujuk Meilan kepada Ayudia.

Sejenak Ayudia terdiam, sesekali mencuri pandang pada sahabatnya yang berjalan sejajar menuruni jalan setapak, diantara rerumputan yang menghijau, dengan semilir angin nan lembut yang menghantarkan bau belerang kedalam penciuman yang terasa pekat.

Sepekat hati Ayudia yang tersenyum dalam diam nan tertahan. Dicobanya juntaikan kaki dalam gemerecik air taman yang mengalir indah nan jernih di kawah Papandayan.

Bayangan langit dan  awan yang semakin kelabu bercermin diantara riak air yang mengalir lembut perlahan. Selembut paras Ayudia yang berkaca dalam derai aliran sungai. “Kamu menangis?”, tanya Meilan,membuyarkan lamunan Ayudia. “Jujurlah, jika kau mau!”, ucap Meilan kembali meyakinkan.

Ditatapnya Meilan, sahabat Ayudia yang senantiasa menyamankan hatinya, teman berbagi dikala suka dan duka, teman setia yang senantiasa ada jika dibutuhkan. “Aku telah putuskan tali hitbah Mas Yoga”, ucap Ayudia lirih, dalam isak yang tertahan. “What, why?”, tersentak Meilan, dalam kaget tiada tara.

Bagaimana mungkin Ayudia berani putuskan tali hitbah Yoga untuk dirinya? Sedangkan Meilan tahu, keluarga Ayudia sangat menginginkan putri bungsu mereka segera naik pelaminan dan memberikan kehangatan dengan hadirnya cucu yang lucu dari perkawinan Ayudia. “Ya aku sudah putuskan dan  membatalkan penghitbahan itu”, jelas Ayudia seraya menceritakan alasan yang membuat mereka harus berpisah. Perbedaan kultur yang sangat melekat dengan keluarga Ayudia, yang notabene sangat menjunjung tatakrama dan adab dari adat keturunannya.

Perbedaan paham yang sudah tidak bisa di tolelir lagi, dan banyak hal-hal kecil yang sangat mengganggu hati dan pikiran yang membuat Ayudia tidak nyaman untuk mempertahankan ikatan itu, dan memutuskan untuk mundur dan pamit dari kehidupan Yoga.

Tertegun Meilan dengan cerita yang Ayudia tuturkan. “Menangislah, jika itu kan menyamankan mu, Ayu!”,ucap Meilan sambil memeluk sahabatnya yang larut dalam kesedihan dan tangis yang tertahan. “Aku telah mengecewakan romo juga bunda”, ucap Ayudia diantara isak tangisnya.

“Ayudia… kamu sudah benar, dan akan memberikan yang terbaik untuk romo dan bundamu, ingat itu!”, jelas Meilan meyakinkan.

Seyakin hati Ayudia untuk tetap berpijak pada putusannya, lepas dari hitbah Yoga, yang berusaha merajuk dan memintanya untuk kembali pada rencananya semula, menikahi Ayudia setelah lulus S2. “Maafkan aku Mas, aku bukan yang terbaik untukmu!”, guman Ayudia, seraya membalas Chat dari Yoga yang keukeuh dengan inginnya, kembali merajut asa yang terputus.

Mas, mana mungkin, benang yang putus dapat utuh kembali dalam ikatan dan untaian  yang sempurna,  tekad Ayudia dalam prinsifnya, menepati janji hati untuk tetap kokoh dan tegak, setegak gunung Papandayan yang menjulang tinggi ke angkasa, tetap anggun dan kuat, walau badai menghantamnya.
Banyuresmi, 15 Juli 2018.
(Noe’71)

***
CV Penulis:

  • Lilis Yuliati, S.Pd
  • Guru SDN Banyuresmi 3
  • Mahasiswa Tekpen Pasca Sarjana IPI Garut

Cerpen Terkait : http://news.juggala.co.id/belajar-berhitung/

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here