Jhon

0
51

Cerpen Oleh: Lilis Yuliati,S.Pd

Couple Truly Experience – news.juggala.co.id.

Nyanyian pucuk cemara tertiup angin dikaki gunung Talaga Bodas, manjakan Jhon ditemani  sebatang sigarete yang bertengger diantara kedua jarinya yang kekar.

Diteguknya  berulang kali kopi hitam yang terhidang di meja kerja Jhon. Sambil  sesekali melirik jendela menatap rembulan yang tersenyum manja, bercermin diantara kaca jendela yang berdiri kokoh di hadapannya. Nyanyian binatang malam dalam sepoi angin berbau belerang, menambah syahdu keceriaan hati Jhon saat itu.

Betapa tidak, sang pujaan hati, perempuan yang dipujanya saat ini ada disisinya, duduk berdua di teras villa milik Jhon, berdua bersama  menatap rembulan purnama tanpa mega, bertabur bintang nan berkelip indah. Menambah suasana romantis semakin  cantik.

Senyum manis sesekali mengembang  diantara tatapan mata yang kerap beradu pandang. Walau  sesekali mata Jhon nakal dengan mencuri pandang, menatap diam – diam perempuan impiannya. Lirikan mata Magdalena, membuat darah Jhon berdesir keras, jantungnya berdegup kencang mengharu biru nan memburu.

“Aku mengagumi segala adamu Lena”, batin Jhon seraya kembali mencuri pandang, memperhatikan lentik jari jemari Magdalena yang sedang lincah menari-nari di atas laptopnya, mengerjakan tugas kantor yang harus di tandatangani sang Bos malam ini.

“Kamu melamun, senyum-senyum sendiri”, sapa lembut Magdalena membuyarkan lamunan Jhon, yang tersentak kaget. Senyum tersungging dengan nada terbata, “ A… ah bisa aja Lena”, jawab Jhon sambil kembali tatapannya tertuju pada Magdalena.

Jika aku mengagumi salahkah? Bahasa tubuhmu yang santun membuat aku tergila-gila pada mu. Tutur katamu yang lembut, mengikat aku untuk terpikat padamu, manjamu yang lembut, membuat aku nyaman berada di samping mu,  tentang segala adamu Magdalena. Kembali batin Jhon memuji tentang Magdalena, dengan segala yang ada dipujaan hatiya.

Namun tersentak lamunan Jhon, buyar dalam kehancuran, ketika merdengar Magdalena menelfon seseorang yang selalu membuat dirinya cemburu, lelaki yang pernah dia ceritakan kepada Jhon.

Apakah ini sandiwara, rekayasa atau memang suatu kesungguhan atas sakit ibunya yang  telah menahun. Atau apakah ini bukti dari cinta Jhon, yang terlalu cemburu dan takut kehilangan Magdalena.

“Tak semestinya kau lakukan itu di hadapan ku Magdalena”, kecewa Jhon atas rasa sakitnya yang merasa dihianati Magdalena, menurut pikiran Jhon.

“Jhon, salahkah aku jika dalam kecemasan dan panik, dengan keadaan ibu yang sedang sakit saat ini, aku minta bantuan Edy?”, tangis Magdalena mulai pecah, diantara kecewa dirinya dan kecewa yang  Jhon rasakan.

Kepanikan Magdalena akan ibunya yang sedang sakit, memaksa Magdalena untuk meminta bantuan Edy. Dan menelfonnya tanpa pamit dan minta pertimbangan Jhon.

Kata maaf yang di ucapkan atas kesalahan menelfon Edy, tanpa pamit pada Jhon, telah membuat telak hati Jhon untuk membenci Magdalena.

Diam… dalam kecewa, Jhon masih tak mampu mendengar alasan Magdalena. Terasa diiris sembilu dalam duka dan kelukaan. Merasa dihianati dengan sandiwara cantik yang Magdalena ciptakan untuk dirinya. “Dasar perempuan!” maki Jhon dalam hati.

Berulang kali dibaca pesan singkat yang Magdalena kirim via WA, namun tak ada niat untuk membalasnya. Kekecewaan yang  Jhon rasakan, telah menutup pintu hatinya. Egonya  tak mampu di tepis dengan segala maaf Magdalena. Di coba balas WA yang Magdalena kirim, namun kembali di tarik, dan di lemparkannya handfhone Jhon di atas bantal. Kembali di ambilnya hp itu dan… “aku harus istirahat”! Seraya mematikan Hp itu dalam sepi.

Sesepi malam  yang mulai beranjak naik menyelimuti pekat di kegelapan. Tawa   Magdalena masih terasa menghiasi  teras villa milik Jhon. Namun,  ditepisnya berulang kali derai tawa itu, di lemparkannya bayangan segala indah kemerin malam bersama Magdalena ke dalam kebencian yang kian terusik dan menguris hati.

Dalam duduk sendiri dengan secangkir kopi pahitnya, Jhon   merasa ketidak adilan tengah menimpa dirinya. “Andai ini terjadi padamu Magdalena, aku yakin kamu takkan sanggup dengan semua ini”. Kembali Jhon, membayangkan ketika kata itu di ucapkan dari bibirnya untuk Magdalena yang terisak dalam tangisnya bersama air mata yang mulai menderas.

Di usapnya air mata itu… “aku menangis? Tanya Jhon dalam hati, sambil mengusap air matanya yang mulai merambat di pipinya. “Untuk siapa air mata ini dan untuk apa?”, kembali seribu tanya memenuhi batin Jhon.  ”Aku ingin sendiri!”, bisiknya lirih, seraya rebahkan diri di sofa teras villa miliknya. Menerawang jauh ke langit luas.

Langit yang tak berbintang, seakan mengerti  duka Jhon, nyanyian binatang malam di kaki Gunung Talaga Bodas, jadi teman dalam kesendiriannya, memenjarakan rasa dalam kerangkeng sepi yang kian menguris hati. Angannya terus melayang…untuk Magdalena… pujaan hatinya yang belum bisa di maafkan atas luka yang telah diciptakannya, menurut Jhon.

Talaga Bodas, 30 September 2018.

(Wishnoe Ida Noor’71)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here