Kabut Di Istana Maya

0
91

Cerpen Oleh: Wishnoe Ida Noor

ilustrasi Concorsi&Fotografia animal-nonfiction.info (Google Search)

Flams diam tak bergeming, ditinggalkannya secarik kertas bertuliskan tinta biru, bahwa dia tahu, tapi bukan berarti tak tahu. Meskipun tahu, tapi tak seharusnya untuk tahu terlebih memberi tahu, tentang apa yang telah mereka lakukan, baik  Moses, Fiona termasuk pimpinannya, sebab diantara kita yang tahu, ada yang lebih Maha Tahu, yaitu Tuhan.

 

Dibenci itu, lebih baik dari pada harus berpura-pura. Sama halnya ketika kita berani mengambil sikap dan tindakan ketegasan pada suatu permasalahan yang dihadapi. Yang Maha Kuasa tidak pernah berhutang, apa yang telah kita berikan dengan tulus, akan kembali pada porsinya.

Semua itu ada alasannya tersendiri, bisa karena kita telah belajar banyak dan terlalu banyak penderitaan. Karenanya, dari penderitaan kita menjadi tahu mana lawan, mana kawan. Mana tulus, mana kepura-puraan. Mana natural, mana rekayasa, dan seterusnya.

Demikian juga dengan apa yang telah kita kerjakan, pada bidangnya masing-masing. Loyalitas, dedikasi, integritas, serta keikhlasan telah kita jalankan. Meski itu adalah suatu proses panjang dan melelahkan, ditempuh dengan menyakitkan dari berbagai benturan, baik politis maupun kedengkian dari sesama, bahkan lebih ironisnya lagi justru serangan dan permainan itu datang dan dimainkan oleh orang yang dekat dengan diri kita, ada dalam lingkungan dimana kita berperan aktif mengabdikan diri.

Bagi kita yang telah jauh mengarungi biduk kehidupan ini, paham benar bahwa, watak manusia itu tidaklah sama satu dengan lainnya. Karenanya, seperti kata toeri ohle menjelaskan, watak adalah bentukan dasar. Sedangkan karakter, adalah sikap yang diteruskan dan dijadikan cara bertindak.

Tapi, itulah kehidupan dan berkehidupan. Orang mumpuni dan bijaksanawan mengatakan, bahwa hidup adalah proses. Ya..melalui proses itulah, kita ditempa dan diukur seberapa mampu menyikapi dan menjalaninya pluss keluar dari proses itu sendiri, melalui perubahan sikap dan solusi serta keputusan.

Kita akan bisa lebih menghargai apa yang kita dapatkan dengan kerja keras, lebih menghormati saat kita membayarnya dengan harga atas perjuangan kita sendiri. Bukan hanya secara materi saja, lebih urgent adalah nilai hakiki jati diri dan moralitas hati.

“Dimana kamu bertemu dengannya, koq bisa ya? Luar biasa! Udah ditolong malah menthung? Terlebih sikapnya seperti kacang lupa kulitnya saja,” Tanya Anjani membuyarkan konsentrasi Flams yang tengah asyik menikmati fanorama pesawahan.

Flams hanya tersenyum, karena baginya semua itu sudah diterimanya dengan kesungguhan hati, bahwa apa yang telah Moses dan Fiona lakukan padanya, adalah sikap ketidak dewasaan atas kekurangan dirinya yang tidak percaya diri, sehingga trik dan intrik licik dilakukan berbagai cara untuk menjatuhkan bahkan menyingkirkan Flams dari Tim.

“Flam..”, seloroh Anjani pelan,

“ya..”, jawab Flams datar.

Keduanya terlibat perbincangan alot, ketika Anjani mengemukakan argumennya, bahwa sosok manusia macam Moses dan Fiona, sudah tak laik lagi dijadikan kawan, terlebih diakui sebagai saudara. Beralasan juga, mengingat siapapun orangnya, pasti akan mengunci hatinya untuk tidak memberi ruang perkawanan kembali, ketika tahu watak dan karakternya yang kerap dengki, berkhianat, mengadu domba hanya ingin menunjukkan power dan pahlawan, meskipun tak kesampaian, karena keduanya menjadi pahlawan kesiangan semata.

Dihadapan pimpinan, Moses piawai menjual kata manis dan sanjungan akan kepatuhannya pada aturan. Tapi, dibelakangnya, adalah kemunafikan semata. Dia mencari mangsa, siapa kira-kira kawan yang bisa dijadikan alat untuk diadu dombakan guna memenuhi hasrat strategi culasnya.

“Mana bisa suatu Tim akan kuat, jika dibikin keruh oleh orang dalam sendiri, Flams? Kau harus segera ambil sikap dan tindakan!,” sergah Anjani dengan nada tinggi menahan rasa geregetnya atas sikap Flams yang tetap tenang dan memberi jawaban dengan senyum kecil diantara hembusan nafasnya.

“Anjani..,” jawab Flams mulai membenahi duduknya. “Kita tak usah ribet dengan urusan mereka, karena proses itu tidak akan membohongi hasil. Kau tahu, siapa menanam, dia yang menuai dan Tuhan tidak akan pernah tidur untuk itu,” tandasnya.

“Orang Sunda bilang, bahwa melak cengek moal jadi bonteng,” seloroh Flams.

Anjani mengerutkan jidatnya, tapi segera tawanya berderai ketika Flams menterjemahkan bahasa tersebut dengan bahasa Nasional, bahwa jika kita menanam cabai, tidak akan berbuah timun. Cabai ya..cabai..timun..ya..timun, meski semua itu prosesnya lama, tak ubahnya ketika kita menanam cabai, buahnya akan menunggu panen sesuai dengan perkembangan usia dari tanaman itu sendiri.

“Ach…kalau aku dalam posisimu, Flams. Sudah aku tinggalkan tuh si Moses dan Fiona, bahkan jika perlu mengeluarkannya dari Tim, dari pada jadi cucuk!!!,” timpas Anjani.

“Cucuk?,” jawab Flams diantara tawanya yang tertahan. Anjani menepuk jidatnya sendiri. Dalam posisi dihimpit oleh kedengkian Tim-nya, seorang Flams masih bisa menyampaikan jokenya.

“Tapi dia telah membunuh karaktermu, kariermu dan itu adalah kejahatan yang tak terampuni menurutku. Dia telah membalikan fakta dari apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah kau tidak sayang atas apa yang telah kau berikan pada Tim selama ini? Waktumu, tenagamu, pikiranmu, totalitasmu, dan credible lainmu. Tolong pikirkan itu dengan baik dan matang, Flams,” tutur  Anjani dalam persefsinya.

Tapi percayalah, potong Flams. Bahwa seiring waktu, kita harus yakin, semua yang kita perbuat akan kembali pada diri kita sendiri. Terlepas, apakah ritme permainan itu berkolaborasi, berkonsfirasi, dan sebagainya. Tujuannya hanya satu, yaitu ambisius atas ketakmampuannya membimbing hati serta pikirannya untuk selalu menyadari kekurangan berikut kelebihannya yang menjadi kapasitasnya.

“Itu bukan suatu kelemahan, Flams,” lagi-lagi Anjani memotong pembicaraan Flams. Itu adalah kelebihannya memainkan karakter, bahwa dia selalu sembunyi dibalik kata ketakmampuannya, agar kau peduli dan simpati. Dia tahu kapasitasmu, karaktermu dan bagaimana konsekuannya prinsif hidupmu dalam segala hal, sehingga itu dijadikannya senjata dan celah untuk selalu memanfaatkanmu,” tukas Anjani cemberut.

“Tuhan saja tidak pernah meninggalkan saat umat-Nya jatuh dan mengharap kasih-Nya. Mengapa kita manusia begitu harus selalu jumawa dengan urusan jabatan dan kekuasaan? Terlebih ini cakupan intern di Tim kita, terlalu naïf rasanya, jika aku harus melayani dan melawannya dengan hal yang sama. Itu bukan diriku, kecuali jika memang sudah tak bisa dibenahi, sudah sakarephe dewek, silahkan saja. Bukan salahku, jika aku berkeinginan untuk keluar dari Tim dengan harapan, semoga jika tak ada aku di dalamnya, semuanya akan ada perubahan yang jauh lebih baik, lebih maju,” jawab Flams membuat Anjani tercengang.

Apakah yang mempercundangi kita, harus juga dipecundangi? Itu semua kembali pada diri kita sendiri, Tuhan saja tidak pernah mempercundangi kita, meski Dia adalah Maha segalanya.

“Flams, apa yang akan kau lakukan, ketika dalang yang mempercundangimu, adalah pimpinanmu sendiri yang berkolaborasi dengan peluru-pelurunya yaitu Moses dan Fiona serta peluru lainnya yang telah dijadikan alat olehnya untuk mencapai hasrat politik dan strateginya sebagai Big Power dari Tim-mu sendiri,” Tanya Anjani setelahnya dia tahu dan menelusuri, siapa dalang dari sekenario semua ini.

Flams diam tak bergeming, ditinggalkannya secarik kertas bertuliskan tinta biru, bahwa dia tahu, tapi bukan berarti tak tahu. Meskipun tahu, tapi tak seharusnya untuk tahu terlebih memberi tahu, tentang apa yang telah mereka lakukan, baik  Moses, Fiona termasuk pimpinannya, sebab diantara kita yang tahu, ada yang lebih Maha Tahu, yaitu Tuhan.

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here