(Liputan Eksklusif) Ai Anita Sari, Ketua RW 08: “ Terimakasih Dinkes Kab. Garut, Bantu Pembangunan 20 Titik Spiteng, Upaya Tanggulangi Stunting”.

0
30

Wishnoe Ida Noor – JuggalaNews

Garut – Berkiprah di dalam membangun daerah, tidak hanya harus bertitel, orang kantoran atau berpangkat saja. Selama mempunyai niat yang kuat dengan tujuan mulia, mengerjakannya dengan tulus, bergotong royong, itu bagus dilakukan dari pada diam berpangku tangan.

Mengapa untuk pembaca JuggalaNews kali ini, Kamis (08/11) di transformasikan sosok srikandi yang peduli kesehatan di wilayah Leuwigoong, yaitu The Ai Anita Sari. Baginya berkiprah di masyarakat, membantu, dan memberikan pencerahan berbagai program pemerintah yang diimplementasikan di desanya, sudah menjadi kewajiban.

“Saya selalu ingat apa yang dikatakan oleh orang-orang pintar, bahwa pembangunan itu kewajiban semua pihak dan konprehensif, karenanya turut membantu program pemerintah bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, serta program lainnya harus dibantu dalam pengimplementasiannya”.

Demkian juga dengan program Kemenkes yang sekarang tengah gencar dilakukan, yaitu program pencegahan dini terkait Stunting, sudah digerakkan dengan pembangunan 20 titik spiteng di beberapa kampung Desa Leuwigoong Kecamatan Leuwigoong dari Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dimulai dari 0%-200% tahap pembangunannya.

20 titik tersebut tersebar di beberapa kampong, diantaranya Kp. Cijeler 3 titik. Kp. Jati Nunggal, 4 titik. Kp. Pasir Gagak, 1 titik. Kp. Kondang, 2 titik. Kp. Neglasari, 2 titik. Kp. Cibinbin, 1 tItIk. Kp. Tambakan, 1 titik dan  lainnya.

Teh Ai, JuggalaNews biasa menyapanya demikian. Bersama tim yang bergerak dalam penanggulangan Stunting ini yaitu, Heri Efendi selaku Ketua, dirinya sendiri adalah selaku bendahara, dan Siti Komariah selaku Sekertaris.

Bahwa awal mula adanya stunting yang lumayan banyak di daerah lwgoong, kabar tentang anak stunting, membuat Dinkes Garut tergerak untuk melakukan kegiatan, apa kiranya yang bisa menjaga atau mengurangi jangan sampai lebih banyak lagi stunting- stunting lainnya, ungkap teh Ai.

Selaku Ketua RW 08 di Kampung Cijeler Desa Leuwigoong, teh Ai menjelaskan kenapa Dinkes mengacu kepada pembuatan septiteng di lengkapi dengan wastapel, karena dari hasil survey, ternyata penyebab yang paling akut terjadinya stunting, adalah dari faktor kebersihan lingkungan dan faktor kebiasaan cuci tangan pakek sabun di air yang mengalir.

“Misalnya masalah gizi makanan, sudah bagus memenuhi kriteria kesehatan, tapa itu tetap tidak cukup, kalaulah lingkungan masih kotor, apalagi Buang Air Besar (BAB) masih di kolam, selokan atau cubluk ( kata orang sunda,red) itu sangat mempengaruhi kesehatan lingkungan, “tandasnya.

Menurut Teh Ai, bahwa kondisi kesehatan sama dengan Balita di daerah lain, cuman yang membedakan ada beberapa balita yang pendek badannya, tapi tidak sesuai dengan usianya. Penderita Stunting di wilayah kami cukup lumayan banyak, sekarangpun anak-anak tersebut, sedang mendapat penelitian dari Unpad oleh dr. Sifa, ungkapnya.

“Dari Unpad, pada masyarakat di berikan bantuan berupa biskuit dan  dipantau perkembangan tubuh dan Berat Badannya,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, bahwa Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun.

Kementrian Kesehatan sekarang ini tengah gencar melakukan kampanye melawan stunting. Apa itu stunting?

Stunting, adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama,umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Apa tanda-tanda anak mengalami stunting?

1 Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
2.Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
3.Berat badan rendah untuk anak seusianya
4.Pertumbuhan tulang tertunda.
(Noe’71)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here