Pandu Tak Ber-Rindu

0
77

Cerpen Akhir Pekan Oleh: Wishnoe Ida Noor

Ilustrasi Gambar – Google Search – Bukan Karena Perselingkuhan, Ini Jenis Perpisahan yang Paling … tribunnews.com

Jangan pernah berharap pada sesuatu yang tidak bisa kita harapkan. Berharaplah pada diri sendiri dan pada yang telah menciptakan diri kita, karena Dia, tak berbatas pada suasana kita bahagia maupun dalam penderitaan. Semua digapai dengan kasih sayang-Nya, tanpa kecuali dan tanpa pamrih apapun.

Berharap pada manusia, tak sekonsekuen Tuhan!, karenanya meskipun kita sudah merendahkan hati dan saling menghargai menurut kapasitasnya masing-masing, hmmm…manusia lekat dengan keegoannya merasa, bahwa pencapaian dirinya adalah miliknya sendiri. Dia lupa, bahwa harta, tahta, dan jabatan adalah ujian yang telah Tuhan titipkan pada diri kita. Akan bisakah membawanya dalam perjalanan hidup yang dilaluinya selama dia diberikan umur dan berjuta kenikmatan dunia. (Jajauheun bersyukur dan menjalankan perintah-Nya-ya,..hehe..).

Berharap dan berprasangka tanpa pamrih hanyalah pada Allah SWT.Tinggal bagaimana kita berpersuasif atas segala kemurahan, kebaikan dan kasih sayang-Nya  pada diri kita.

“Kenapa sih  titik temunya koq demikian,” Tanya Rindu dengan jidat yang berkerut. Dia mulai serius menyimak obrolan Pandu disenja hari.

Rindu terdiam ketika suatu ungkapan di katakana Pandu atas suatu keinginan, agar menyimak dengan seksama penjelsannya atas suatu sikap yang kini dilakukannya, meski kebersamaan mereka telah lama terjalin.

Mendengarkan dan menyimak terlebh dahulu, setelah itu apakah mau dibantah atau mau ada pembelaan berupa argumentasi, biar ada keseimbangan tanpa mengedapnkan ego dan menyalahkan satu sama lainnya.

Dulu, bahwa segala perhatian dan kasih sayang akan selalu tercurah meski apapun yang terjadi. Kuat mempertahankan suatu komitmen, bahwa dalam siatuasi apapun, akan selalu bersama dan bla..bla..bla..komitmen lainnya yang meluncur deras dari bibirmu.

Hmmm…

Apakah memang demikian ya, arti suatu komitmen? Padahal sudah saling menjaga keberadaan masing-masing. Sudah saling memahami sikondisi masing-masing. Pandu dengan dunia kerjanya yang tak berbatas waktu, sedangkan Rindu fokus dengan dunia sosialnya memberikan pelayanan pada masyarakat yang membutuhkannya.

“Seperti telah berpisah ya, hati kita,” pancing Rindu sambil menunggu reaksi selanjutnya dari Pandu yang menatapnya begitu dalam menembus jantungnya.

“Jika itu anggapan yang menjadi keyakinanmu, seperti itulah mungkin perasaanmu padaku selama ini,” tukas Pandu datar.

Dear Rindu,

Maafkan jika pagi ini ungkpakanku sedikit banyaknya akan membuat hatimu marah dan tak nyaman. Tapi, ketahuilah bahwa semua ini kulakukan untuk kebaikanmu, dan kau.

Jangan lagi mempertanyakan seberapa aku punya cinta dan sayang padamu berikut komitmenku padamu, bahwa kaulah wanita satu-satunya yang tak akan tergantikan dihatiku selamanya, meski itupun tetap akan kau tampik dengan cibiran dan ketak percayaan hatimu.

Baiklah,

Ingtakah kamu, ketika semua inginmu aku luruskan agar lebih memahami kondisimu yang sibuk dengan duniamu tanpa harus banyak protes terlebih menuntut.

Itupun telah aku penuhi, meski awalnya adalah sangat susah, karena aku selalu berargumen untuk tetap sama-sama menyempatkan waktu demi kebersamaan lewat komunikasi jarak jauh.

Ingatkah kamu,

Ketika kau memilihnya dengan tampilan gaya barumu mengumbar kebersamaan bersamanya di statusmu, itu adalah jawaban bagiku, bahwa selama ini aku tak ada artinya ternyata di matamu terlebih di hati dan hidupmu.

Usah kau berargumentasi, bahwa semua itu sudah kukatakan dari awal akan kondisimu. Bukan masalah bersama atau tidak, melainkan kejujuran hati saja.

Tahukah kamu,

Meski curigamu memenuhi hatimu dengan siapa aku sekarang dan samakah seperti yang kuberikan padamu dalam ketulusan? Toh pada akhirnya, aku tetap dengan prinsifku dan kau selalu paling depan mengambil keputusan, sementara aku hanya diam dan mengamati saja.

Bersama atau berpisah, bagiku denganmu adalah tiada bedanya. Untuk itu, aku serahkan sekarang sepenuhnya padamu. Biarkan aku tetap dengan jati diriku.

Aku tahu, hatimu bimbang, tapi tak konsekuen membangun komitmen. Itu bagiku sudah cukup menjadi catatan saja, dan biarkan aku merasakan kebebasan untuk hatiku sendiri tanpa kau intervensi lagi dengan bahasamu yang prontal atau seperti biasa sikap protesmu dengan ending keegoisan.

Akhirnya, kaupun mengeluarkan senjata pamungkasmu, bahwa segala yang kau lakukan sekarang ini selalu mengingat akan nama Tuhan. Aku support 100%, kubiarkan karena itu baik buatmu.

Tapi, jika hal itupun kembali kau protes, aku yang bertanya padamu, apakah kebersamaan denganku sudah kau anggap tak perlu?

Apa keputusanku, itu pasti kau tanyakan setelah membaca ungkapanku ini. Jawabku adalah, lakukan yang terbaik untukmu jangan untukku. Berikan yang terpantas untuk orang yang kau cinta, sayang tanpa memberikannya untukku.

Kesetiaan bukan untuk diucapkan dan dipertanyakan, tapi dengan saling menjaga ucapan, bahasa, sikap dan tindakan, adalah kesetiaan yang santun tanpa saling mengusik satu sama lain.

Aku tetap aku.

Mohon maaf, jika aku sudah kurang tertarik dengan nuansa yang kau ciptakan untuk mengisi relung hatiku. Pupus semua praduga, karena itu obat untuk menyelamatkan hatimu seperti yang kau katakan dengan lantang, bahwa tanpaku kau bahagia, dan aku menyimak ritmemu tanpa harus kau tahu terlebih mengatakannya padamu.

(Wishnoe Ida Noor)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here