Pasar Becek, Interaksi Multikomunitas, Perlukah Dirawat ?

0
30

Ode: Yan Agus Supianto

ilustrasi Google Search – news.juggala.co.id

Geliat pagi ini, aku mulai dari aktivitas pasar tradisional Guntur. Hiruk pikuk angkutan kota dari tiga jurusan (cilawu, wanaraja dan Bayongbong) dan kendaraan pribadi. Ada pula kuli angkut dan becak mengantarkan barang belanjaannya menuju mobil angkutan kota.

Komunikasi antar pedagang, kuli angkut, sopir dan pengunjung pasar menjadi warna keceriaan pagi di tempat yang menjadi ciri pasar dengan segala kondisinya.

“Kang angkat ayeuna enjing,” tanya seorang penarik becak kepada sopir angkutan jurusan Bayongbong dengan penuh canda. Si nenek  pun menimpali sedikit bingung, “Naha ira kitu ieu rek maju?,” tanya nenek. Si tukang becak hanya senyum sambil melirik sopir angkutan kota.

Cerita ini mungkin tidak menarik bagi kita. Tapi, tahukah bahwa orang luar senang dengan gaya komunikasi seperti itu yabg hampir tidak pernah dia temukan  di negaranya. Sebutlah Haruka   artis pentolan Jakarta 48 asal jepang. Di negaranya tidak pernah melihat dan mendengar orang begitu perhatian pada sesamanya, bahkan orangnya pun tidak pernah menegur untuk urusan dirinya.

Di Indonesia ia temukan bagaimana orang menegur untuk urusan ‘kamu sudah mandi?’ atau urusan “sepele” lainnya. Tidak heran orabg semirip Haruka  banyak yang memutuskan beralih kewarganegaraan. Terakhir kita juga dikabari, seorang pemain bola Persib Fabiano Beltrame akhirnya dinaturalisasi hanya karena alasan yang sama, kelamahan dan budi pekerti.

Kejadian di pasar atau cerita Haruka, bisa jadi akan menjadi sebuah cerita 10, 20 atau 30 tahun yang akan datang, bila kemudian kultur ini tidak kita rawat pelihara, bagai kita rawat alam ini yang belakangan ini murka.

Wallahu ‘alam bishsjowaab

Cag!!!

(Wishnoe Ida Noor)

Ikuti Kami
Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here